Jombang, Garda21 – Seorang pemerhati sejarah asal Surabaya melakukan penelusuran mendalam terhadap situs-situs bersejarah peninggalan masa kolonial di Mojowarno, Kabupaten Jombang, pada Minggu (11/1/2026). Kunjungan ini mengungkap jejak penting tokoh-tokoh lokal dan Belanda yang berkontribusi dalam perkembangan pelayanan kesehatan dan keagamaan di wilayah tersebut.
Dian Karadona, pemerhati sejarah yang melakukan kunjungan tersebut, memulai perjalanannya dari Gedung Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mojowarno. Bangunan berarsitektur kolonial ini memiliki nilai historis tinggi, dengan pembangunan yang dimulai pada 24 Februari 1879 dan diresmikan pada 3 Maret 1881.
Dari gereja, penelusuran dilanjutkan ke pemakaman umum yang berjarak sekitar satu kilometer di sebelah timur. Di kompleks pemakaman ini tersimpan makam tokoh-tokoh penting, baik dari Belanda maupun pribumi, yang memberikan kontribusi signifikan bagi perkembangan Mojowarno.
Salah satu makam yang dikunjungi adalah makam Pendeta Johannes (Jan) Kruyt dan putranya, Arie Kruyt. Keduanya tercatat sebagai penggagas berdirinya “Kamar Jamu” yang menjadi cikal bakal Rumah Sakit Kristen Mojowarno. Lembaga kesehatan tersebut diresmikan pada 6 Juni 1894 oleh Bupati Mojokerto dan Jombang kala itu, Raden Adipati Ario Kromodjojo Adi Negoro.
Di kompleks pemakaman yang sama, terdapat pula makam beberapa direktur rumah sakit yang berasal dari Belanda, di antaranya Dr. Bervoets dan Dr. A. Nortier. Para tenaga medis ini melanjutkan estafet pelayanan kesehatan modern di Mojowarno.
Yang menarik, di lokasi ini juga terdapat makam tokoh-tokoh pribumi yang berperan penting dalam sejarah pelayanan kesehatan dan keagamaan. Di antaranya adalah Dr. M.B. Ismael, dokter Jawa pertama yang bertugas di Rumah Sakit Kristen Mojowarno, serta Paulus Tosari, guru Injil dari Jawa pertama.
“Keberadaan makam tokoh-tokoh pribumi seperti Dr. M.B. Ismael dan Paulus Tosari menunjukkan bahwa sejak awal sudah ada peran aktif masyarakat lokal dalam pengembangan pelayanan kesehatan dan penyebaran agama Kristen di Mojowarno,” ungkap Dian.
Penelusuran kemudian berlanjut ke Dusun Mojoroto, Desa Mojowangi, untuk mengunjungi makam Pendeta J.E. Jellesma. Beliau merupakan pendeta utusan dari Nederlandsche Zendeling Genootschap (NZG), sebuah lembaga yang mengirimkan para misionaris dari Belanda ke Indonesia pada masa kolonial.
Pendeta Jellesma dikenal sebagai pelopor pelayanan kesehatan modern bagi masyarakat Mojowarno. Beliau memperkenalkan metode pengobatan modern yang kemudian dilanjutkan oleh Pendeta Johannes Kruyt dan putranya, menjadikan pelayanan kesehatan sebagai bagian integral dari misi kemanusiaan mereka.
Menanggapi hasil penelusuran ini, Dian Karadona menyatakan kekagumannya terhadap kekayaan sejarah yang tersimpan di Mojowarno. “Saya cukup terkesan dengan sejarah yang ada di Mojowarno. Banyak hal penting yang perlu didokumentasikan dan dilestarikan,” ujarnya.
Dian menekankan pentingnya upaya pelestarian terhadap situs-situs budaya yang ada di Mojowarno, baik berupa benda maupun non-benda. “Diperlukan perhatian serius dari berbagai pihak untuk menjaga warisan sejarah ini. Pelestarian tidak hanya mencakup bangunan dan makam, tetapi juga cerita dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya,” tegasnya.
Ia berharap pemerintah daerah, komunitas sejarah, dan masyarakat dapat bekerja sama dalam upaya pelestarian ini, agar generasi mendatang dapat memahami dan mempelajari sejarah daerah mereka dengan lebih baik.
Kunjungan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi dokumentasi sejarah Mojowarno dan mendorong upaya pelestarian situs-situs bersejarah yang ada.
Penulis : Lukius Juliandri












