KH. Jazuli juga mengingatkan kembali bahwa penetapan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional berakar dari Resolusi Jihad 1945, yang menjadi tonggak perjuangan para santri dan kiai dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
> “Resolusi Jihad yang dicetuskan pada 22 Oktober 1945 membakar semangat perjuangan bangsa. Para santri, ulama, dan rakyat bersatu padu melawan penjajah dengan keberanian tanpa rasa takut,” tegasnya.
Sementara itu, KH. Asep Saifuddin Chalim dalam sambutannya menyampaikan paparan mengenai transformasi pendidikan di lingkungan Amanatul Ummah. Ia menegaskan bahwa sistem pendidikan pesantren kini telah beradaptasi dengan kemajuan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam.
> “Transformasi pendidikan ini terus kami kembangkan. Tahun lalu saja, sebanyak 1.258 santri Amanatul Ummah diterima di perguruan tinggi negeri, baik di dalam maupun luar negeri — termasuk Jerman, Tiongkok, Mesir, Maroko, dan Tunisia. Sebanyak 65 santri diterima di fakultas kedokteran, bahkan ada yang di universitas pertahanan,” ungkap KH. Asep.
Usai upacara, peringatan Hari Santri diakhiri dengan berbagai penampilan seni dari para santri, mulai dari drumband, parade budaya, tarian daerah, pembacaan puisi, hingga teater santri yang menggambarkan semangat kebangsaan dan cinta tanah air.
Peringatan Hari Santri di Ponpes Amanatul Ummah tahun ini menjadi bukti nyata sinergi antara nilai keagamaan dan pendidikan modern, sejalan dengan semangat “Jihad Santri Jayakan Negeri.” ( Sri H)
Penulis : Sri H
Halaman : 1 2










