Gerakan ini memiliki sejumlah tujuan, antara lain merehabilitasi kawasan hutan lindung yang mengalami degradasi, mengamankan sumber mata air di area pegunungan Lawu yang mulai menunjukkan penurunan debit, mengurangi risiko longsor dan banjir bandang terutama pada musim penghujan, serta membangun kesadaran masyarakat khususnya generasi muda tentang pentingnya menjaga lingkungan.
Menurut para relawan, langkah konkret seperti penanaman pohon harus terus dilakukan tanpa menunggu bantuan pemerintah.
Para penggerak kegiatan menyampaikan harapan agar pemerintah daerah ke depan lebih hadir dalam program lingkungan berbasis masyarakat. Mereka menilai konservasi hutan memerlukan sinergi antara Pemerintah Daerah, Dinas Kehutanan, komunitas lingkungan, pemerintah desa, dan lembaga kebencanaan.
“Kami berharap pemerintah daerah melihat bahwa gerakan ini bukan hanya kegiatan komunitas, tetapi bagian dari upaya menjaga masa depan ekologi Magetan. Lereng Lawu adalah jantung kehidupan, dan kami ingin memastikan ia tetap memberikan manfaat bagi generasi mendatang,” kata salah satu relawan senior.
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga mengajak pemuda lokal untuk terlibat tidak hanya pada proses penanaman, tetapi juga pemeliharaan lanjutan agar tingkat keberhasilan pohon tetap tinggi. Edukasi ekologis dan monitoring rutin akan dilakukan secara berkala oleh komunitas.
“Ini bukan tentang berapa banyak bibit yang ditanam hari ini, tetapi berapa banyak pohon yang bertahan hidup lima atau sepuluh tahun ke depan,” tambahnya.
Penulis : Lukius Juliandri
Halaman : 1 2









