Kepala Bakesbangpol Jombang, Budi Winarno, S.T., M.Si., menegaskan bahwa moderasi beragama harus diterapkan setiap individu sebagai fondasi menjaga keharmonisan di tengah perbedaan agama, suku, dan budaya. Ia mengaitkannya dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98, yang menurutnya mengingatkan bahwa masa depan bangsa bergantung pada generasi muda yang menjunjung persatuan dan toleransi.
Budi juga mengingatkan tiga tantangan utama harmoni kebangsaan. Pertama, egoisme, yaitu mengutamakan diri atau kelompok di atas kepentingan bersama. Kedua, eksklusivisme, yakni sikap memisahkan diri karena merasa kelompoknya paling berhak atas kebenaran. Ketiga, etnosentrisme, yaitu menganggap budaya dan nilai kelompok sendiri paling unggul, sementara budaya lain dipandang rendah. Ketiganya, kata dia, menghambat terciptanya masyarakat yang rukun dan damai.
Sementara itu, Kasubbag Tata Usaha Kantor Kemenag Jombang, Dr. H. Arif Hidayatullah, M.Pd.I., yang mewakili Kepala Kantor Kemenag, mencontohkan Kampung Moderasi Beragama di Desa Ngepeh sebagai bukti nyata kerukunan di Jombang. Di desa itu, warga pemeluk Islam, Kristen, Hindu, Buddha, dan Katolik hidup berdampingan, saling menghormati, dan bekerja sama.
Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan memiliki kesadaran bersama bahwa nilai persaudaraan, toleransi, dan kebangsaan tumbuh lewat dialog, kebersamaan, dan penghargaan atas perbedaan. Pesantren dipilih sebagai tempat pertemuan karena menjadi simbol bahwa dialog lintas agama dapat berlangsung di lingkungan mana pun.
Dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika, seluruh elemen masyarakat diharapkan terus merawat persatuan dan menjadikan keberagaman sebagai kekuatan membangun Jombang yang damai, harmonis, dan sejahtera.(Lukius )
Halaman : 1 2










