
“Coolen mempunyai latar belakang budaya yang dipengaruhi oleh ibunya yang merupakan putri bangsawan dari Mataram, sehingga dalam menyampaikan kekristenan sering menggunakan budaya Jawa yang mudah diterima oleh masyarakat pada waktu itu” ungkap Wiryo Widianto. ” Mbah Coolen telah memberikan contoh yang baik mengenai kehidupan bertoleransi dengan tidak melarang membangun Masjid dan memiliki jiwa sosial yang tinggi, salah satunya ketika terjadi kelaparan di Jawa Timur, Mbah Coolen dapat menyediakan beras bagi ribuan orang dengan cara menjual beras dengan harga yang murah” terang Mas Wiwid panggilan akrab Wiryo Widianto yang merupakan pengarang buku Paulus Tosari.
Menurut pendeta Suyono, ” Coolen adalah tokoh Misionaris Kristen yang mengkabarkan Injil dengan cara berbeda dengan orang- orang eropa pada saat itu, karena menggunakan Budaya Jawa untuk mendekati masyarakat yaitu melalui media wayang dan tembang, meskipun Mbah Coolen memiliki kekurangan juga menurut iman kristen yaitu memiliki istri lebih dari satu Namun memiliki peranan besar untuk perkembangan keKristenan di tanah Jawa”.
Sementara itu menurut pendeta Tri Kridhaningsih ” Coolen adalah sosok yang sangat pintar dimana dia dapat menggunakan budaya untuk mengajarkan kekristenan, selain itu beliau juga mengajari masyarakat untuk bertani atau bercocok tanam dengan benar sehingga pada waktu itu di wilayah Ngoro masyarakatnya makmur”. ” Dalam beragama itu dapat beriringan dengan Budaya, sehingga terjalin toleransi dan saling menghormati diantara masyarakat” lanjut Pendeta Kridha.
“Sosok Coolen merupakan tokoh yang memberikan pandangan tentang toleransi terhadap umat beragama, selain itu menjadi contoh dalam kehidupan bermasyarakat dan berbudaya, kita perlu mengangkat tokoh-tokoh yang lain dalam diskusi mendatang yang mempunyai andil dalam sikap toleransi terhadap sesama “. Pungkas Gus Aan dalam acara diskusi ini yang di moderatori oleh Nur Nasya, jurnalis KR53.
Penulis : Lukius Juliandri
Halaman : 1 2









