Pada kesempatan yang sama, dr Agustina mengungkapkan bahwa stimulasi yang utama yang harus diberikan kepada anak saat golden periode adalah merangsang motorik anak, termasuk memperhatikan saat makan dan mengobservasi apakah tumbuh kembang anak sudah sesuai umurnya apa belum,apakah ada kesulitan makan.Jika ada permasalahan dengan tumbuh kembangnya maka harus segera dikonsultasikan dan ditangani.
“Red flag ato peringatan gangguan tumbuh kembang jika sampai 6 bulan belum bisa mengangkat kepala atau 9 bulan belum bisa duduk maka harus segera dilakukan penanganan. Observasi oromotor di mulai saat bayi apakah bayi kuat menyusunya apa tidak, saat MPASI juga diperhatikan apakah proses makannya berjalan lancer atau ada gangguan. Harus di observasi apakah anak tersebut ada kesulitan makan atau ada kelainan makan. Orang tua memberikan makanan dengan tekstur sesuai usia,” ungkapnya.
Yang tidak kalah penting adalah mengatur dan membatasi durasi makan anak tidak lebih dari 30 menit dan tidak boleh makan dengan melihat hp, agar anak tersebut mengetahui proses makan itu seperti apa. Tidak hanya itu, para orang tua juga harus memperhatikan proses makan dan menelan makanan yang terdiri dari 3 fase yaitu fase oral, faringeal, dan esofageal.
Gangguan di fase oral biasanya apakah dia tidak bisa membuka mulut, apakah tidak bisa menggerakkan lidahnya, apakah ada ileran. Kemudian faringeal merupakan proses menelan atau melempar makanan ke dalam, gannguannya ada rasa batuk atau tidak, sedangkan gangguan pada fase esofageal adalah timbul rasa mengganjal di dada. dr Agustina mengaku kasus yang sering ia temui dari anak beresiko stunting adalah gangguan oromotor yg menjadikan anak susah makan dan keterlambatan motorik.
Hal itu dapat diatasi dengan melakukan terapi oromotor dan stimulasi motorik yang dibantu oleh tim rehab yg meliputi dokter, fisioterapis dan terapi wicara untuk membantu meningkatkan fungsi otot-otot makan, seperti otot rahang, otot bibir, dan otot lidah, dan mengoptimalkan perkembangan motoriknya.”Keberhasilan terapi ditentukan oleh kerjasama keluarga,lingkungan dan dokter beserta terapis.Di rumah juga harus tetap dilakukan stimulasi,” tutupnya.
Penulis : Julek
Halaman : 1 2









