Surabaya, Garda21 – Gedung GPIB Immanuel yang berusia seabad di kawasan Bubutan, Surabaya, menjadi saksi bisu diskusi sejarah kekristenan Jawa Timur, Jumat (11/10/2025) sore. Puluhan tokoh gereja dari berbagai denominasi berkumpul membahas sosok J.E. Jellesma, misionaris Belanda yang meninggalkan jejak mendalam bagi perkembangan Kristen di Jawa Timur abad ke-19.
Pertemuan selama empat jam tersebut merupakan program tahunan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia Wilayah (PGIW) Jawa Timur dalam rangka bulan Ekumene. Fokus pembahasan adalah buku “Riwayat Hidup Jellesma Sang Rasul Jawa” karya Wiryo Widianto, seorang jemaat GKJW.
“Tujuannya adalah untuk meminimalkan rasa inferior atau minder sebagai orang Kristen di Jawa Timur,” tegas Pdt. Natael Hermawan Prianto, MBA, Ketua Umum PGIW Jatim. Menurutnya, kehadiran kekristenan di tanah Jawa sudah berlangsung jauh sebelum Indonesia merdeka, bahkan benih-benih Injil telah ada sejak berabad-abad lalu.
Dari Konflik Menuju Persatuan
Wiryo Widianto mengawali presentasinya dengan pemutaran video dokumenter hasil kolaborasi dengan Bina Sabda. Film pendek itu menceritakan perjalanan hidup Jellesma dari masa kecil hingga penugasannya sebagai zendeling di Hindia Timur pada pertengahan abad ke-19.
Salah satu pencapaian monumental Jellesma adalah keberhasilannya menjembatani dua kubu kekristenan yang saling bertentangan. Di satu sisi ada Johannes Emde di Surabaya yang mengajarkan bahwa menjadi Kristen harus mengikuti cara Barat. Di sisi lain, C.L. Coolen di Ngoro, Jombang, membiarkan pengikutnya mempertahankan adat Jawa tanpa kewajiban dibaptis.
“Masing-masing pengikutnya sangat fanatik terhadap pemimpinnya. Di sinilah Jellesma berperan menyatukan mereka di Mojowarno, Jombang,” jelas Wiryo di hadapan peserta yang memenuhi ruangan bersejarah itu.
Kontribusi Jellesma tidak berhenti di situ. Ia mengembangkan metode pendidikan bernama
“Zendingsmethode” untuk mempersiapkan pemimpin jemaat dan desa. Murid-muridnya bahkan dikirim membantu pewartaan Injil di Jawa Tengah, tepatnya mendampingi Pieter Jansz, misionaris pertama dari gereja Mennonit Belanda.
Pelayanan Tanpa Sekat
Yang membuat Jellesma berbeda adalah pendekatannya yang melampaui batas-batas keagamaan. Ia mendirikan “Lumbung Miskin” untuk membantu masyarakat ekonomi lemah dan memperkenalkan pengobatan modern kepada siapa saja, tanpa memandang keyakinan mereka.
Pdt. Em. Simon Filantropha, pendeta senior GKI yang menjadi narasumber kedua, mengapresiasi jiwa pietis Jellesma. “Kesalehan pribadi seperti ini hendaknya masih hidup di tengah kita,” katanya.
Pendeta yang telah pensiun itu khususnya menyoroti metode pemuridan yang diterapkan Jellesma, yakni “Nyantrik Jawa” di mana murid tinggal bersama guru.
“Kehidupan bersama inilah yang menjadi inti pemuridan. Bukan sekadar transfer ilmu, tetapi pembentukan karakter dan spiritualitas melalui teladan hidup,” urai Pdt. Simon.
Ia juga mengingatkan tentang pengorbanan pribadi Jellesma yang kehilangan dua anaknya, namun tetap menghidupi banyak orang dalam rumah tangganya. “Kesediaan berkorban ini ditanamkan dalam keluarganya dan menjadi teladan bagi banyak orang,” tambahnya.
Dialog Lintas Denominasi
Acara yang dipandu Pdt. Rully A. Haryanto itu dihadiri beragam denominasi gereja. Hadir utusan dari PGIS wilayah Gresik, Mojokerto, Nganjuk, dan Madiun, serta perwakilan GKIN, GPIB, Bethany, GAPI, dan jemaat-jemaat lokal Surabaya seperti GKJW, GKI, GKSI, GSJA, HKBP, dan GPPS.
Tak hanya tokoh gereja, lembaga mitra seperti LBH HOPE, PIKI, GAMKI, JKLPK, dan Pustakalewi turut berpartisipasi. Mahasiswa sejarah dari Surabaya, Kediri, dan Malang serta sejumlah jurnalis Jawa Timur juga menyaksikan diskusi yang berlangsung dinamis.
Beberapa peserta memberikan tanggapan, antara lain Pdt. W. Kristian Wijaya dari PGIS Madiun, Pdt. Manurung dari HKBP, dan Pdt. Suranto dari GAPI. Mereka sepakat bahwa kisah Jellesma relevan untuk konteks gereja masa kini.
Menutup acara, Pdt. Rully menegaskan bahwa ajaran Jellesma harus menjadi inspirasi. “Gereja-gereja harus makin bersatu dan tidak tersekat dengan perbedaan denominasi sesuai dengan doa Tuhan Yesus bagi para muridnya,” katanya merujuk Yohanes 17:21.
Ia menekankan pentingnya pemuridan dan kaderisasi agar pelayanan tidak menjadi satu tokoh sentral, melainkan melibatkan banyak orang dalam semangat ekumenis dan kerja sama lintas iman.
Gedung GPIB Immanuel yang menjadi lokasi diskusi adalah bangunan cagar budaya Surabaya yang didirikan pada 1924. Sebelumnya dikenal dengan nama “Protestantsche Kerk”, gedung ini menjadi saksi perjalanan panjang komunitas Kristen di kota pahlawan.
Penulis : Lukius Juliandri












