Jombang, Garda21—Dalam rangka memperingati 126 tahun GKJW Jemaat Bongsorejo mengadakan Ngobrol Sejarah tentang berdirinya jemaat ini. Acara diadakan di pendopo depan gereja pada hari Minggu (7/7/2024), dihadiri sekitar 150 orang, dan menghadirkan 5 narasumber, pagelaran ini bertemakan : Nresnani, Nduweni, Ngopeni Bongsorejoku ( mencintai, memiliki dan merawat Bongsorejoku).
Kelima narasumber tersebut adalah Widianto, warga yang juga menulis buku 100 tahun GKJW Bongsorejo. Hadiyanto dan Wiryo Widianto dari PERWAMKI selain itu sebagai pemerhati sejarah gereja (GKJW), Seken, kepala desa Bongsorejo dan Tri Kridaningsih, pendeta jemaat Bongsorejo.
Dalam diskusi ini menurut Widianto, acara ulang tahun ini bertepatan dengan berdirinya gedung gereja permanen. Namun sebenarnya Gedung gereja ini sudah ada sejak 1873 sudah ada berupa gubug beratap ilalang.
Sedangkan menurut Wiryo Widianto; “selama 3 tahun dilakukan pembukaan hutan Bongsorejo yaitu sejak tahun 1873. Desa Bongsorejo mempunyai arti Bongso adalah rakyat atau masyarakat, sedangkan Rejo artinya makmur’. “Untuk mengetahui tanggal peresmian gedung gereja, Mededeelingen van wege het Nederlandsche Zendelinggenootschap 1882 mencatat peresmian bangunan gereja sekaligus pentakbisan Voorganger (pamulang) Bongsorejo pertama : Joram Lestari oleh Johannes Kruijt yaitu pada tanggal 6 Juni 1881” tambah Wiryo Widianto.
Penulis : Lukius Juliandri
Halaman : 1 2 Selanjutnya










