MADURA HERITAGE TELUSURI JEJAK LELUHUR DI JANTUNG MOJOWARNO

- Jurnalis

Senin, 18 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jombang, Garda21–Jauh sebelum Mojowarno dikenal sebagai pusat Kekristenan Jawa, orang-orang Madura telah lebih dulu menorehkan jejak di tanah ini.
Siapa sangka, di balik kemasyhuran Mojowarno sebagai kampung Kristen Jawa tertua di Indonesia, tersimpan kisah orang-orang Madura yang turut meletakkan fondasinya? Inilah yang mendorong komunitas Madura Heritage mengadakan kunjungan penelusuran sejarah ke Mojowarno, Jombang (Minggu, 17/5/2026) sebuah perjalanan yang bukan sekadar wisata, melainkan napak tilas identitas.

Perjalanan sejarah ini bermula dari sebuah drama politik di tanah Madura pada awal abad ke-19. Abdurrasid Cokrokusumo, putra Sultan Cokroadiningrat II dari Bangkalan, terpaksa hengkang dari Madura akibat pergolakan kasultanan yang dipicu adu domba penjajah Belanda. Ia membawa serta keluarganya dalam pelarian panjang yang penuh penyamaran — dari Madura menuju Surabaya, melewati Dosermo, Jagir Wonokromo, Kedungturi, Taman, hingga akhirnya menetap di Desa Bogem, kini wilayah Sukodono, Sidoarjo.

Untuk bertahan hidup, Cokrokusumo menyamarkan diri dengan nama Kiai Mendhung, membeli perahu kecil untuk mencari ikan sambil bercocok tanam. Dari titik inilah keluarga ini perlahan bangkit dan dikenal sebagai keluarga terpandang di desanya.
Tak jauh dari garis keturunan Cokrokusumo, ada nama lain yang tak kalah besar pengaruhnya: Paulus Tosari. Lahir sekitar tahun 1813 dengan nama Kasan, ia adalah seorang Madura asli dari Kedungturi, Taman, Surabaya. Kelak ia tumbuh menjadi salah satu tokoh penyebar Kekristenan Jawa paling berpengaruh — dan dari situlah benang merah keterlibatan orang Madura dalam pendirian komunitas Mojowarno dapat ditelusuri.

Dalam kunjungan ini, tim Madura Heritage berkesempatan melakukan wawancara langsung dengan keturunan Karolus Wiryoguno, salah satu tokoh kunci dalam sejarah Mojowarno, yang merupakan keturunan Cokrokusumo. Pertemuan ini menjadi momen yang sangat berharga — di sinilah ingatan kolektif leluhur kembali hidup melalui penuturan dari mulut ke mulut.
Rombongan juga mengunjungi dua ikon bersejarah Mojowarno: Gereja GKJW Mojowarno dan Rumah Sakit Kristen Mojowarno. Kedua bangunan itu bukan sekadar struktur fisik, melainkan saksi bisu perjalanan panjang sebuah komunitas yang tumbuh dari campuran berbagai latar budaya, termasuk Madura. Hingga kini keduanya masih terawat dengan baik dan menjadi daya tarik tersendiri bagi siapa saja yang peduli pada warisan sejarah. Komunitas heritage Madura juga mengunjungi beberapa bangunan rumah kuno di desa Mojowangi yg dulu dihuni para keturunan cikal bakal Mojowarno.

Baca Juga  TOKOH GUSDURIAN AAN ANSHORI MENGHADIRI PERAYAAN NATAL DAN SAMBUT TAHUN BARU DI MOJOWARNO

Bangunan gedung gereja, rumah sakit, sekolah yang ada juga tidak terlepas dari peran tokoh keturunan madura yaitu mbah Jadmojo Joyoguno sebagai ahli bangunan yg diutus bupati Mojokerto kala itu
Salah satu peserta kunjungan, Umar Faruk (Founder Madura Heritage) mengungkapkan kekagumannya terhadap kehidupan plural yang tumbuh subur di Mojowarno. Meskipun komunitas Kristen adalah yang terbesar di sana, nuansa toleransi dan kerukunan antar umat beragama terasa sangat kuat dalam kehidupan sehari-hari — sesuatu yang menurutnya patut dijadikan contoh bagi banyak daerah lain di Indonesia.
Di penghujung kunjungan, komunitas Madura Heritage menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada masyarakat Mojowarno. Bagi mereka, perjalanan ini bukan sekadar menggali masa lalu, melainkan menemukan fakta yang selama ini tersembunyi: bahwa orang Madura, dengan segala perjuangan dan pelarian hidupnya, juga turut andil dalam membangun apa yang kini kita kenal sebagai Mojowarno.

Kisah Cokrokusumo, Kiai Mendhung, dan Paulus Tosari adalah bukti bahwa sejarah tidak pernah tunggal. Ia selalu dirajut oleh banyak tangan, dari banyak arah — dan kadang, kita perlu melakukan perjalanan jauh untuk menyadarinya.

Penulis : Lukius juliandri

Berita Terkait

Dusun Otok Gelar Prosesi Penghormatan Terhadap Mbah Paing Dan Mbah Redjo Sebagai Pembabah Hutan
Asal Usul Nama Negara Indonesia dan Periode Penjajahan
Berita ini 67 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 18 Mei 2026 - 23:37 WIB

MADURA HERITAGE TELUSURI JEJAK LELUHUR DI JANTUNG MOJOWARNO

Jumat, 8 September 2023 - 20:49 WIB

Dusun Otok Gelar Prosesi Penghormatan Terhadap Mbah Paing Dan Mbah Redjo Sebagai Pembabah Hutan

Sabtu, 8 Juli 2023 - 22:44 WIB

Asal Usul Nama Negara Indonesia dan Periode Penjajahan

Berita Terbaru

Jejak Sejarah

MADURA HERITAGE TELUSURI JEJAK LELUHUR DI JANTUNG MOJOWARNO

Senin, 18 Mei 2026 - 23:37 WIB